Selasa, 13 November 2012

PENDIDIKAN: Pentingnya Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan Indonesia Sebagai Cerminan Jati Diri Bangsa Indonesia



            Bahasa persatuan merupakan salah satu identitas khas suatu bangsa. Jika suatu bangsa tidak memiliki bahasa persatuan, maka tentunya bangsa tersebut akan mendapatkan banyak kesulitan. Dengan kata lain, suatu bangsa yang tidak memiliki bahasa persatuan akan mendapatkan kesulitan di dalam berkomunikasi, yang mana hal itu merupakan sebuah pondasi utama untuk bersosialisasi dan menyampaikan informasi kepada publik. Oleh sebab itu, dari pondasi utama yang tidak dapat diwujudkan tersebut tentunya akan meruntuhkan pondasi yang lainnya juga.
            Hidup bermasyarakat dan bersosialisasi tidak lepas dari komunikasi dan komunikasi tidak lepas dari bahasa sebagai penghubung dan penyampai konsep riil pikiran seseorang ke dalam pikiran orang lain. Sungguh besar kegunaan bahasa sehingga bahasa dibuat sedemikian rupa sesuai dengan kaidah kebahasaan dan unsur gramatika yang benar agar tidak terjadi kesalahpahaman arti ketika berkomunikasi. Tidak mengherankan jika sebagian besar negara di dunia begitu mengagungkan bahasa persatuan mereka seperti Perancis, Jepang, dan Jerman. Mereka bisa dikatakan mengharamkan untuk menggunakan bahasa asing selain bahasa nasional mereka dalam berkomunikasi karena begitu hormatnya mereka terhadap bahasa ibu mereka.
            Sekarang jika dibandingkan dengan Indonesia,  maka bahasa Indonesia yang asli sekarang ini mengalami degradasi nila-nilai penghargaan dan penghormatan dari masyarakat umum dan khususnya mahasiswa, yang mana hampir disingkirkan di setiap komunikasi mereka secara keseluruhan. Masyarakat umum dan mahasiswa lebih senang menggunakan  bahasa non-Indonesia/slang/bahasa gaul dan sebagainya yang lebih lazim dan lebih nyaman digunakan bagi mereka. Hal itu bisa jadi disebabkan karena mereka lebih sering mendengarkan bahasa non-Indonesia ketimbang bahasa Indonesia yang sebenarnya sehingga mereka menjadi terbiasa untuk menggunakan bahasa non-Indonesia tersebut dan hal itupun terjadi secara berantai ketika mereka bergaul dengan satu sama lain.
             Hampir satu abad yang silam, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, bangsa Indonesia memproklamasikan Sumpah Pemuda dengan menjunjung tinggi semangat kebangsaan. Hal itu merupakan sebuah bukti otentik bahwa bangsa  Indonesia dilahirkan dan tentunya pula  bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Seperti halnya yang tertera pada bunyi ketiga Sumpah Pemuda, "menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia", yang mana sudah jelas bahwa sejarah Indonesia mencatat ikrar tersebut. Namun, hal itu hanyalah sekedar catatan masa lalu saja. Bagi sebagian besar generasi sekarang, hal itu tidak lebih hanya dianggap sebagai simbol tertulis bahwa Indonesia memiliki bahasa persatuan. Akan tetapi, penerapan yang sebenarnya sangatlah memperihatinkan dan tentunya juga hal ini sudah sangat serius.
            Bahasa Indonesia bisa dikatakan sebagai bahasa yang di-nomorduakan khususnya di kalangan generasi yang dididik seperti mahasiswa. Mereka rata-rata berbicara dengan bahasa gaul/pokem/slang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, juga tidak lepas dari bahasa daerah mereka masing-masing, dan bahasa asing bagi yang bisa. Lalu, dimana bahasa asli Indonesia saat ini? Hal itu tentu sulit untuk dijawab.
            Mungkin keadaan yang ada sekarang ini tidak perlu disalahkan karena setiap elemen masyarakat harus menyadari bahwa Indonesia kaya akan bahasa daerahnya sehingga masyarkat ataupun mahasiswa di berbagai universitas di Indonesia harus tetap melestarikan itu. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa masyarakat Indonesia ataupun mahasiswa harus membudayakan bahasa Indonesia disamping melestarikan kekayaan bahasa daerah masing-masing dan juga harus bisa meminimalisir bahasa asing. Dengan demikian, jati diri Indonesia tetap utuh melalui bahasa persatuannya.
            Akan tetapi, sudah semakin parah. Praktik penggunaan bahasa non Indonesia sudah tidak bisa dibendung lagi keberadaannya. Mulai dari media sebagai tonggak pengarah masyarakat ataupun mahasiswa. Apa yang diungkapkan media itulah yang akan diikuti mereka, terutama masalah kebahasaannya yang sering kali memakai bahasa asing ataupun bahasa gaul untuk menarik perhatian masa agar tertarik pada apa yang ditawarkan media tersebut.
            Sehubungan dengan hal tersebut, perlu adanya tindakan nyata dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Berkaitan dengan pemakaian bahasa gaul dalam dunia nyata dan fiksi yang menyebabkan interferesi ke dalam bahasa Indonesia dan pergeseran bahasa Indonesia tersebut di atas, ada hal-hal yang perlu dilakukan.
            Pertama, menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para generasi penerus bangsa ini bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus kita utamakan penggunaannya. Dengan demikian, mereka lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar daripada bahasa gaul. Penyadaran ini dapat dilakukan oleh para orang tua di rumah kepada anak-anak mereka. Dapat pula dilakukan oleh para guru kepada para siswa mereka. Selain itu, pihak pemerintah dapat bertindak secara bijak dalam menyadarkan masyarakat untuk mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di negara kita. Sebagai contoh, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Kebahasaan.
            Kedua, menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan penggunaan bahasa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang dapat kita gunakan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan menanamkan semangat tersebut, masyarakat Indonesia akan lebih mengutamakan bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa gaul. Cara menanamkannya dapat dilakukan di rumah, sekolah, dan di masyarakat.
            Ketiga, pemerintah Indonesia harus menekankan penggunaan bahasa Indonesia dalam film-film produksi Indonesia. Dengan penggunaan bahasa Indonesia secara benar oleh para pelaku dalam film nasional yang diperankan aktor dan aktris idola masyarakat, masyarakat luas juga akan mengunakan bahasa Indonesia seperti para idola mereka tersebut.
            Keempat, meningkatkan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi. Para siswa dan mahasiswa dapat diberikan tugas praktik berbahasa Indonesia dalam bentuk dialog dan monolog pada kegiatan bermain drama, dalam bentuk diskusi kelompok, penulisan artikel dan makalah, dan juga dalam bentuk penulisan sastra seperti cerita pendek dan puisi. Dengan praktik-praktik berbahasa Indonesia tersebut, dapat mengembangkan kreativitas berbahasa Indonesia mereka dan juga dapat membiasakan mereka berbahasa Indonesia secara baik dan benar.

Minggu, 21 Oktober 2012

Penerapan Bahasa Baku Sebagai Refleksi Kewibawaan Karya Tulis Akademik




Dalam karya tulis akademik, eksistensi bahasa baku mutlak diperlukan sebagai sarana untuk mempresentasikan ide seorang penulis. Di samping itu, situasi dan kondisi karya tulis akademik memang tergolong ke dalam ragam yang resmi sehingga bahasa baku pun harus diaplikasikan didalam situasi tersebut.
           
Bahasa baku merupakan hal yang tergolong rumit untuk diterapkan oleh karena bagi sebagian orang bahasa  baku dirasa kurang familiar dan enjoyable. Karenanya pula, bahasa baku memiliki susunan yang sistematis dan tepat sehingga diperlukan kearifan dan kemampuan yang memadai untuk menerapkannya. Bagi sebagian orang pula, bahasa oral sehari-hari atau bahasa percakapan nonformal/tidak baku akan lebih mudah dan enjoyable untuk diterapkan karena kearifan yang mereka miliki sudah memadai di bidang bahasa tersebut. Lagi pula, bahasa tersebut memang telah mendominasi keseharian mereka sehingga didalam penerapannya tidak terdapat kesulitan yang serius. Akan tetapi, aspek kewibawaan bahasa nonformal sangat lebih rendah dari bahasa formal sehingga ragam bahasa baku menjadi lebih pantas dimandatkan sebagai elemen penting didalam karya tulis akademik. Misalnya, kalimat “Saya tidak menyukai Anda” (baku) dibandingkan dengan kalimat “Saya nggak suka anda” (tidak baku), maka kewibawaan pun akan terlihat lebih menonjol didalam kalimat baku tersebut. Untuk itu, seorang penulis didalam dunia akademik harus berkomitmen untuk mempelajari ragam tulisan baku secara mendalam agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan fatal yang bertentangan dengan aturan akademik itu sendiri dan tentunya agar efek kewibawaan didalam tulisannya pun bisa muncul dan terlihat lebih sempurna.

Untuk mencapai kearifan yang lebih mengenai ragam tulisan baku tersebut, diperlukan strategi ekstra yang lebih meyakinkan, diantaranya dengan cara berusaha untuk menambah kosa kata baru,  bahasa serapan, dan istilah-istilah penting, lalu berlatih untuk menerapkannya melalui bimbingan para senior atau guru yang lebih tahu mengenai hal tersebut, dan terakhir berusaha menyempatkan diri untuk membaca karya tulis ilmiah yang sudah populer di kalangan akademik agar wawasan semakin bertambah.
             
             

Selasa, 02 Oktober 2012

PENDIDIKAN: Apa Makna dari Nasionalisme dan Pancasila?


Makna Nasionalisme dan Patriot Pancasila

Begitu banyak pengertian-pengertian yang menyiratkan makna nasionalisme dan pancasila. Namun dari pengertian tersebut, jarang sekali kita menemukan seseorang ataupun banyak orang yang benar-benar mengaplikasikannya dalam dunia nyata. Seperti halnya dengan pengertian yang diutarakan oleh Bapak  Yulianto, Satpam UGM, bahwasanya nasionalisme itu adalah rasa cinta pada bangsa dengan tujuan mempertahankan kedaulatan negara. Sedangkan pancasila adalah lima asas yang menjadi pondasi paling dasar dalam menetapkan sumber-sumber hukum lainnya. Coba kita jelajah lagi dari pada makna yang terkandung dalam pengertian tersebut. Pada kalimat “rasa cinta” dari pengertian nasionalisme tersebut, apakah dua kata ini memang benar-benar diaplikasikan dengan baik atau bahkan tidak sama sekali? Jika kita ambil contoh dalam pertandingan sepak bola. Dari berbagai media berita banyak sekali yang mengabarkan tentang perkelahian yang terjadi diantara dua kubu supporter antar dan dalam satu kesatuan Republik Indonesia (lih. persija heran ada suporter tewas).

       Sungguh buruk jika contoh hal diatas menjadi budaya turun-temurun bangsa Indonesia, karena hal tersebut memang tidak layak untuk dilakukan dan betul-betul sudah mencerminkan kebalikan dari arti “rasa cinta” dari pada nasionalisme dan juga dari pada arti sila  ke-3 “persatuan Indonesia” (lih. makna sila pancasila) itu sendiri. Kejadian ini pula telah menggambarkan kita akan nasionalisme nafsu amarah dan sila kesesatan yang diaplikasikan secara tidak sadar. Pun sudah barang tentu hal ini sangat bertentangan dengan nasionalisme dan pancasila yang sebenarnya. Memang tak dapat dipungkiri lagi jika satu bangsa dan negara saling bertubrukan. Hal itu mungkin saja dikarenakan tidak terbimbingnya rasa nasionalisme dan ketaatan pancasila yang sebenarnya di dalam diri setiap  Individu.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, setiap masyarakat betul-betul dituntut untuk menjaga persatuan dan kesatuan yang ada di dalamnya. Hal ini disebabkan agar terjaganya kerukunan dan rasa saling bersaudara diantara sesama rakyat. Jika kita pandang dari segi nasionalisme, maka rakyat sangat identik dengan persatuan karena rakyat tidak akan terwujud jika hanya ada satu orang di dalam suatu daerah, bangsa, dan negara. Maka oleh sebab itu, faktor terpenting di dalam menjaga persatuan dan kesatuan adalah sikap nasionalisme itu sendiri. Yang mana di dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu harus paham dan ikhlas dalam menjalankan maksud dari sikap nasionalisme.

Nasionalisme dan pancasila tak akan pernah bisa dipisahkan karena sistem dan aturan nasionalisme itu sendiri terdapat di dalam pancasila. Jika ingin tahu makna nasionalisme yang sebenarnya, maka seseorang harus paham makna dari pancasila itu sendiri. Setiap bait pancasila memiliki butir-butir yang sangat meluas dan tentunya banyak menggambarkan aturan-aturan yang baik untuk masyarakat. Jika setiap anggota masyarakat mampu dalam memahami dan menjalankan maksud pancasila tersebut, maka dengan penuh keyakinan bangsa ini akan saling makmur dalam persatuan nasionalisme. Sudah barang tentu jika pengangguran, rakyat miskin, anak terlantar, dan sebagainya, akan terkena dampak positif dari sikap nasionalisme berpancasila tersebut.

Pak Suradi juga tak kalah hebat dalam mendefinisikan makna nasionalisme ini. Ia mengemukakan bahwasanya nasionalisme itu merupakan rasa kebangsaan yang mencakup segala suku, agama, perbedaan, hingga menciptakan persatuan dan kesatuan. Jika kita mengaitkan dengan penjelasan sebelumnya, bahwasanya rakyat itu identik dengan persatuan, maka kita pun akan menemukan beberapa tambahan komponen dari pengertian Pak Suradi ini. Seperti halnya ketika kita bicara soal perbedaan suku, ras, agama, dan sebagainya, maka hal inilah yang menjadi komponen terbentuknya persatuan tersebut. Jika taka ada perbedaan maka tak ada yang namanya persatuan.

Begitu banyak manusia yang hidup di tanah Indonesia ini. Namun semakin banyak yang hidup dan berkembang melewati rentetan zaman dan waktu, maka semakin hilang juga peradaban nasionalisme di dalam bangsa. Sebenarnya begitu besar harapan rakyat bagi pemerintah, agar para penggerak pemerintahan tersebut mencontohkan kandungan makna dari nasionalisme yang berpancasila dalam aplikasi kehidupan pribadinya masing-masing. Sehingga dengan demikian, rakyat pun merasa lega dengan sikap penjabat pemerintah tersebut. Pun sudah barang tentu jika hubungan masyarakat dengan penjabat pemerintahan pun akan terkesan damai dan makmur, walaupun mungkin akan masih ada sedikit gejala atau pengaruh tertentu yang berlawanan. Namun yang terpenting adalah hal yang berlawanan tersebut dapat dikurangi setidaknya.

PENDIDIKAN; WAWANCARA SEPUTAR KEHIDUPAN SENIMAN



Para Pelaku Seni di Era Modern

                      1.      Pendahuluan

                Seni pada awalnya merupakan proses dari manusia. Oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Pada saat-saat sekarang,seni bisa dilihat melalui berbagi media seiring berkembangnya zaman. Seni juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan atau estetika.
Seni begitu sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai. Masing-masing individu seniman cenderung memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih media, dan suatu set peraturan untuk penggunaan media itu.
Suatu paket nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat media itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, ungkapan, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk media itu. Walaupun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain pada masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk.
Berbagai macam seni tradisional kini kurang diminati oleh masyarakat. Misalnya saja ketoprak. Padahal, ketoprak merupakan budaya asli Indonesia, tapi peenduduk Indonesia malah cenderung berminat pada budaya barat. Seni lain yang juga kadang kurang diminati adalah melukis secara manual. Kini seiring berkembangnya teknologi orang-orang lebih memilih menggunakan program-program tertentu untuk membuat gambar.
Laporan ini bertujuan untuk memperlihatkan profil para seniman serta perkembangan seni yang tengah berkembang di lingkungan kampus dan perbedaan yang ada dengan perkembangan seni di luar kampus. Selain itu, laporan ini juga ingin menunjukkan perbedaan kontras pada eksistensi seniman kampus dan seniman di luar kampus.

 2.      Wawancara dengan Seniman Kampus dan Seniman Luar Kampus

a.      Seniman Kampus

Nama                                       : Tri Widyarto
Tempat/Tanggal lahir              : Sleman, 26 Juli 1989
Alamat                                    : Talak Ijo, Trihardjo, Sleman, D.I. Yogyakarta
Anak ke                                   : 3 dari 3 bersaudara
Pekerjaan                                 : Mahasiswa
No. Telpon / E-mail                 : 08985007117 / trexerr@yahoo.com

Tanya  : Mas mulai kenal dengan dunia Seni, khususnya Ketoprak ini semenjak kapan?
Jawab : Saya mulai kenal dengan dunia ketoprak ini semenjak saya masuk fakultas ini, itu pada tahun 2009.
Tanya : Sudah berapa lama Mas Tri aktif dalam dunia Ketoprak ini?
Jawab  : Kurang lebih saya sudah aktif mengikuti Ketoprak ini selama 3 tahun.
Tanya  : Kesannya apa mas? Kenapa milih seni ketoprak daipada seni yang lainnya?
Jawab  : Ketoprak itu asyik dan seru untuk dipelajari. Seni yang sederhana, tapi bisa di mix dengan seni yang lain sehingga menghasilkan karya yang lebih menarik. Yang menarik lagi, ketoprak ini dimainkan secara spontan, jadi mampu mengasah konsentrasi kita juga.
Tanya : Yang memotivasi Mas Tri bermain ketoprak ini siapa? Ada tidak?
Jawab : Sebenarnya bukan motivasi. Mungkin sudah dari darah bapak saya. Bapak saya dulu juga pemain ketoprak, kakek saya yang memberitahu tahu saya. Bapak saya tidak pernah memberitahu saya kalau dia dahulunya pemain ketoprak juga.
Tanya  : Kalau boleh tau. Nama Grup Ketoprak di FIB ini apa Mas? Struktur organisasi dan anggotanya bagaimana aktivitasnya dan perlengkapan nya?
Jawab  : Nama Grup Ketoprak nya itu Ketoprak Lesung Sastra Budaya. Dalam grup ini terbagi menjadi 4 manajemen. Manajemen panggung yang bertugas mengatur tata panggung, manajemen produksi yang bertugas memproduksi alur cerita, manajemen make-up dan wardrobe, dan manajemen musik. Anggota yang aktifnya ada 18 orang, namun bila perlu pemain tambahan, kita mengajak atau merekrut mahasiswa-mahasiswa yang masih aktif di FIB. Lalu, kalau kostum biasanya kami menyewa. Kami juga memiliki kostum sendiri tapi jumlahnya terbatas.
Tanya : Ketoprak ini jadwal latihan tetapnya kapan? Ada pelatihnya tidak?
Jawab : Setiap hari kamis. Pelatihnyanya kakak angkatan, kadang-kadang alumni dari ketoprak ini juga melatih kami.
Tanya : Adakah kendala dalam perjalanan Mas selama 3 tahun di Ketoprak ini?
Jawab  : Ada, yaitu sulitnya mencari dana untuk pagelaran.
Tanya : Dukungan dari dosen ada apa tidak?
Jawab : Ada, tapi bukan secara materiil melainkan secara moral, seperti mengundang dalam suatu acara kampus.
Tanya : Pertanyaan terakhir mas. Harapan mas untuk Ketoprak Lesung Sastra Budaya ini apa?
Jawab : Harapannya ya ingin grup ini tidak hanya main di lingkungan kampus. Kalo harapan lebih tingginya lagi bisa di undang ke universitas lain yang di luar kota

                Tri Widyarto atau Tri yang merupakan kelahiran 26 Juli 1989 adalah seorang mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Anak ke-3 dari tiga bersaudara ini menyukai ketoprak. Ia mulai masuk kedalam dunia ketoprak pertama kali semenjak masuk kuliah di UGM pada tahun 2009 hingga sekarang ini. Alasan Tri atau Mas Tri menggeluti dunia ketoprak karena seni yang satu ini menarik, karena dari seni yang sederhana yang bias di gabungkan dengan seni lain sehingga lebih menarik. Bagi dia yang lebih menarik dari ketoprak ini, yaitu akting nya secara spontan dengan improvisasi masing-masing individu. Beliau berkata bahwa ketoprak ini sudah mendarah daging dari bapaknya. Itupun beliau mengetahui dari cerita Eyang nya.
            Kelompok atau grup ketopraknya bernama Ketoprak Lesung Sastra Budaya. Biasanya mengadakan latihan setiap kamis sore. Dalam grup ketoprak ini terbagi dalam empat manajemen, yaitu manajemen panggung yang bertugas mengatur dan mencari panggung atau tempat pementasan, manajemen produksi yang bertugas memproduksi karya ketoprak yang akan dipentaskan, manajemen make-up dan wardrobe, dan manajemen musik pengiring. Anggota yang aktif saat ini ada 18 orang.
Kendala yang paling berpengaruh dalam ketoprak ini adalah susah dalam mencari dana, dan beliau juga berkata kostum dalam ketoprak terbatas sehingga harus menyewa. Dukungan dari dosen memang ada, namun bukan sebagi materil melainkan dosen mengundang untuk tampil di acara kampus. Harapan Mas Tri untuk Ketoprak Lesung agar bisa mementaskan hasil karyanya keluar UGM hingga universitas-universitas diluar kota Yogyakarta.

b.      Seniman Luar Kampus

Nama                           : Mono
            Tempat, tanggal lahir  : Purworejo, 12 Mei 1990
            Alamat asal                 : Baledono, Purworejo, Jawa Tengah
Tempat kerja               : Pigura “Kappie” utara perempatan Sagan
            Pekerjaan                     : Seniman lukis wajah dan pembuat pigura
            No. Telepon                : 087839564661
           
Tanya  : Sudah berapa lama anda menekuni bidang ini?
Tanya  : Dari siapa anda belajar melukis? Siapa yang mengajari anda?
Jawab  : Saya berlajar melukis itu dari kakak saya. Beliau juga seorang pelukis.
Tanya  : Berapa lama anda belajar melukis hingga bisa atau ahli seperti sekarang?
Jawab  : Saya belajar melukis sampai bisa seperti sekarang memakan waktu sekitar lima bulan. Saya juga belajar sendiri agar lebih mampu melatih kepekaan terhadap seni.
Tanya  : Apa saja kunci agar bisa ahli ataupun menguasai dalam bidang ini?
Jawab  :Hal terpenting adalah kesabaran. Siapapun harus sabar ketika mempelajari sesuatu. Hal ini sangat berguna karena jika seseorang tidak sabar maka dia akan mudah putus asa dan bidang yang akan dipelajari menjadi sulit dikuasai.
Tanya  : Apa saja yang anda lakukan atau kerjakan selama menekuni bidang seni?
Jawab  : Saya membuat lukisan dan juga pigura.
Tanya  : Lukisan jenis apa yang biasanya anda buat?
Jawab  : Saya biasanya membuat lukisan jenis pemandangan alam, binatang-binatang, dan sketsa wajah manusia. Namun, sebagian besar karya saya adalah hasil pesanan dari para pembeli ataupun pelanggan sehingga sangat beraneka ragam.
Tanya  : Kalau kami boleh tahu, berapa harga per sketsa wajah manusia?
Jawab  : Harga untuk menggambar sketsa wajah manusia hingga jadi adalah seratus lima puluh ribu rupiah.
Tanya  :  Apa harga itu sudah termasuk dengan piguranya?
Jawab  : Belum.
Tanya  : Kalau untuk harga pigura itu sendiri berapa harganya?
Jawab  : Pigura memilik harga bermacam-macam. Harganya berkisar dari dua puluh lima ribu sampai tiga puluh ribu rupiah tergantung dari ukuran dan tingkat kesulitan untuk membuatnya. Sertabahan untuk membuatnya. Pigura yang menggunakan kaca memiliki harga tiga puluh ribu.
Tanya  : Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah pigura?
Jawab  : Untuk membuat pigura dibutuhkan waktu sekitarlima belas menit.
Tanya  :  Apa anda pernah mengalami hal yang kurang berkenan ketika menekuni bidang seni ini?
Jawab  : Alhamdulillah Selma ini saya belum pernah mengalami hambatan yang begitu berarti. Hanya masalah-masalah kecil saja yang saya alami dan semuanya masih bisasaya atasi dengan mudah.


Wawancara bersama seorang seniman di daerah Sagan. Narasumber bernama Mono. Dia bukan merupakan orang asli Jogjakarta. Dia berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Alamat rumahnya di Purworejo adalah di daerah Baledono. Mas Mono lahir pada tanggal 12 Mei 1990. Sekarang di berusia 21 tahun.
Mono sudah menekuni bidang seni kurang lebih selama tujuh tahun. Dia memilihuntuk menekuni bidang seni itu daripada melanjutkan sekolah menuju jenjang yang lebih tinggi. Ibunya juga mengizinkan Mono untuk menguasai seni dan mengembangkan bakatnya. Mono mempelajari seni dari kakaknya. Kakaknya juga merupakan seorang seniman. Dia adalah seorang pelukis yang cukup mahir di bidangnya. Mono sangat giat saat belajar melukis dari kakaknya. Dia belajar kurang lebih selama lima bulan sehingga dia bisa menguasai kemampuannya dalam melukis. Awalnya dia memiliki kesulitan dalam belajar melukis. Namaun, dia tetap giat berlatih agar apa yang dia inginkan  dapat terwujud.

      3.      Analisis Kelompok

Yogyakarta merupakan salah satu kota tempat berkumpulnya sejumlah seniman dari berbagai daerah di Indonesia, yang telah membukakan cakrawala baru bagi mereka untuk mengembangkan berbagai kemungkinan dalam aktivitas berkesenian. Beberapa kesenian yang mereka jalani adalah seni lukis yang merupakan cabang dari seni rupa dan sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kain kanvas, kertas, papan, danbahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imajinasi tertentu kepada media yang digunakan.
Pada zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan karena terlalu kuatnya pengaruh keagamaan. Ilmu pengetahuan dianggap sihir di zaman itu, sehingga kontroversi pun berlaluan menghantam karya seni tersebut. Tekanan karya pun semakin merujam sehingga seni lukis semakin melenyapkan diri dari peradaban manusia. Pada perkembangannya kini seni klasik kurang diminati. Masyarakat lebih cenderung berminat ke seni modern.
Hal tersebut memang akibat yang tak bisa dihindari dari perkembangan teknologi yang begitu pesatnya. Kini banyak seniman yang telah beralih menuju seni digital; yakni seni yang menggunakan media komputer atau sebagainya dalam proses pembuatannya. Secara tidak langsung hal tersebut juga menyebabkan berkurangnya “lahan” mencari nafkah bagi para seniman. Contoh kongkretnya adalah Mono, salah satu narasumber kami. Secara implisit dari hasil wawancara kami ia ingin mengatakan bahwa jasa lukis wajah sudah berkurang banyak peminatnya. Dalam sehari ia belum tentu bisa memperoleh “order” dari pelanggan yang ingin dilukis wajahnya. Padahal ia dapat memperoleh rupiah yang tidak sedikitdari jasa yang ia tawarkan, yakni Rp 150.000,00 per lukisan.
Selain itu, tingkat pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap masa depan seseorang. Sebagai seorang yang tidak dapat menyelesaikan pendidikannya lebih lanjut, Mono tidak mempunyai banyak pilihan di dalam hidupnya. Andaikan ia dahulu memperoleh pendidikan hingga tingkat SMA atau SMK saja, ia mungkinbisa menjadi seorang desainer professional yang setidaknya mempunyai penghasilan tetap yang layak. Namun, apa boleh buat tuturnya. Pendidikan yang rendah ini telah menghantarkannya kepada pekerjaan yang tak menentu penghasilannya. Ia ingin sekali jika suatu saat nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih memuaskan dan menghasilkan.
Akan tetapi, hal itu hanya sebatas mimpi yang terbang jauh. Penantian itu tak membuat bingung hati Mono. Ia terus berjuang meniti karir di balik lukisan yang elok. Masalah pun sering datang, namun ia tetap bersyukur karena permasalahan tersebut tidak terlalu menyulitkannya dalam mencari solusi yang tepat. 
Tujuh tahun merupakan waktu yang tidak singkat untuk terus konsisten dalam mengggeluti pekerjaan ini. Akan tetapi, Mono memang orang yang tegar dan tabah. “Kadang-kadang tak ada pembeli”, tuturnya. Namun hal itu memang bukan hambatan karena sudah hukum alam jika ada resiko dalam penjualan jasa.

      4.      Penutup

Dari hasil wawancara dan analisis kelompok kami, dapat diambil kesimpulan bahwa faktor pendidikan sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang di masa mendatang. Mono yang tidak tamat SMP tidak mempunyai banyak pilihan di dalam hidupnya. Ia terpaksa bekerja serabutan sebagai pelukis wajah dan pembuat pigura.
Sedangkan, Tri, seorang mahasiswa dapat memilih ketoprak sebagai seni yang ia sukai dan bergabung dengan kelompok Ketoprak Lesung Sastra Budaya. Sebagai orang berpendidikan, ia memang berhak untuk memilih jalan hidupnya. Tri memilih ketoprak untuk menyalurkan bakat seninya, tidak lebih (hingga saat ini). Keadaan ini memang sangat bertentangan dengan Mono yang mau tidak mau harus hidup dengan kondisi yang kurang layak.
Di samping itu, perkembangan seni yang ada di lingkungan kampus dan di luar kampus memang sangat kontras. Hal tersebut dibuktikan dengan berkembangnya kesenian ketoprak di Fakultas Ilmu Budaya. Sedangkan, di luar sana kesenian melukis, khususnya melukis wajah, seperti di ujung tanduk. Serbuan kesenian digital seakan telah menelan kesenian yang dibuat dengan tangan.
Pemerintah sebaiknya memperhatikan masyarakat kecil seperti Mono yang mendapat banyak kesulitan dalam hidupnya. Dengan kemampuan yang terbatas ia harus bersaing dengan derasnya kesenian digital. Pemerintah bisa membuat program penyuluhan melek teknologi bagi orang kecil seperti Mono agar tetap eksis dan dapat bertahan di zaman yang semakin tidak ramah bagi orang kecil ini.